Faculty of Dental Medicine
Ditulis pada tanggal 29 Januari 2013, oleh admin

Di dalam Undang-undang Dasar 1945 tercermin cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia yaitu berupaya melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, serta keadilan sosial. Di dalam pasal 31 Undang-undang Dasar 1945 disebutkan pula bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran.

Guna mewujudkan cita-cita tersebut, khususnya dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa, pemerintah mengeluarkan Undang-undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional serta Peraturan Pemerintah No. 60 danĀ  61 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi. Demikian pula Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang kesehatan menyebutkan pula bahwa pengadaan tenaga kesehatan diselenggarakan melalui pendidikan. Tujuan pendidikan tinggi adalah ; 1. Menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan atau memperkaya khasanah ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian. 2. Mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan atau kesenian serta mengupayakan penggunaannya untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional.

Laporan Menteri Kesehatan pada RAKERNAS 2006 menyatakan bahwa Human Development Index (HDI) Indonesia menempati urutan ke 110 dari 177 negara. Peringkat ini masih 2 tingkat di bawah Vietnam tetapi satu tingkat di atas Uzbekistan. Hal ini sesungguhnya menunjukkan betapa riskan keberadaan sumber daya manusia yang dimiliki oleh Indonesia.

Mencerdaskan kehidupan bangsa merupakan kunci utama memasuki era persaingan global yang sebenarnya telah terjadi, meskipun pelaksanaan AFTA yang menandai terbukanya pasar bebas akan dimulai pada tahun 2010. Dua hal yang menjadi dasar kualitas sumber daya manusia adalah kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan dari sumber daya manusia tersebut. Kualitas kesehatan, tidak hanya berpengaruh terhadap sumber daya manusia bidang kesehatan, akan tetapi juga kualitas sumber daya manusia bidang yang lain. Salah satu mata rantai dari upaya peningkatan kualitas kesehatan adalah tersedianya sumber daya manusia bidang kesehatan, termasuk kesehatan gigi dan mulut yang didalamnya adalah dokter gigi, yang mempunyai kemampuan profesi yang baik, mampu menerapkan dan juga sekaligus mengembangkan ilmu yang dimilikinya serta mempunyai dedikasi dan moral yang tinggi dalam upaya ikut mensejahterakan kehidupan umat manusia.

Berbagai cara dapat ditempuh untuk mencapai derajat kesehatan penduduk yang diinginkan, salah satu diantaranya adalah penyediaan tenaga dokter gigi dengan jumlah dan kualitas yang memadai. Pada saat ini perbandingan antara jumlah penduduk dengan dokter gigi di Indonesia masih berkisar antara 1 dokter gigi per 17.000 penduduk. Sedangkan untuk wilayah Malang Raya perbandingannya 1 dokter gigi per 14.000 penduduk. Pada tahun 2000 di Philipina rasio dokter gigi dengan penduduk 1:4.850, di Singapura 1:3.500 dan di Jepang 1:1.472. Dari sejumlah literatur dikatakan bahwa seorang dokter gigi dapat bekerja ideal apabila rasio dokter gigi : populasi sebesar 1:1.000, tentunya dengan asumsi penyebarannya seiring dengan proporsi jumlah penduduk di daerah tertentu. Produksi lulusan dokter gigi dihasilkan dari 12 (dua belas) FKG ; sedangkan ada 5 (lima) Program Studi Dokter Gigi yang relatif masih baru belum menghasilkan lulusan. Rata-rata lulusan per tahun relatif masih sedikit yaitu sekitar 800 dokter gigi. Dengan demikian, secara kuantitatif masih banyak dibutuhkan tenaga dokter gigi untuk melayani pelayanan kesehatan gigi masyarakat. Adanya sejumlah dokter gigi yang belum tersalurkan bukanlah merupakan indokator yang mencerminkan tentang adanya kelebihan tenaga dokter gigi yang dibutuhkan di Indonesia. Hal ini terjadi sebagai akibat ketidakmampuan dalam mendistribusikan tenaga yang tersedia oleh adanya berbagai sebab.

Banyaknya siswa yang berminat mengikuti pendidikan dokter gigi di Indonesia yaitu sebesar 5636 siswa yang diterima hanya 494 (8,76%) dan di Jawa Timur sebesar 2096 siswa yang diterima hanya 195 (9,3%). Berdasarkan hasil survey terhadap siswa SMA jurusan IPA di Malang diperoleh gambaran peminat program pendidikan dokter gigi sebanyak 22,4%. Dengan demikian peluang untuk membuka program studi kedokteran gigi di Malang masih sangat diperlukan, dan sekaligus untuk memperkecil rasio dokter gigi dengan penduduk di Indonesia dan khususnya di Malang yang mempunyai rasio 1 dokter gigi per 14.000 penduduk. Apabila rasio dokter gigi dengan penduduk di Indonesia tetap 1:17.000, maka Indonesia tidak akan mungki berperan di pasar bidang kesehatan gigi/mulut yang terbuka di negara ASEAN dan bahkan mungkin hanya akan menjadi pasar yang diperebutkan oleh tenaga kesehatan gigi/mulut dari negara luar. Dengan demikian di samping adanya masalah kuantitas yang secara absolut masih diperlukan adanya penambahan jumlah dokter gigi, juga perlu adanya suatu program pembenahan dalam proses pendidikan untuk mencapai kualitas yang diinginkan. Hal ini dapat dicapai melalui peningkatan jumlah penerimaan dari masing-masing fakultas yang telah ada saat ini dan disertai dengan perbaikan proses pembelajaran. Suatu hal yang sangat sulit dilaksanakan, mengingat keterbatasan sarana/prasarana dan sumber daya manusia yang ada pada masing-masing institusi yang telah ada.

Hal lain yang mungkin dilakukan adalah dengan menambah jumlah pusat pendidikan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada dan peluang yang timbul dari adanya deregulasi perundang-undangan melalui suatu proses persiapan yang baik, tidak hanya dalam segi persiapan perangkat keras maupun perangkat lunak, namun juga persiapan yang matang untuk sumber daya manusia yang akan mengkelolanya, guna memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan.

Dengan adanya Undang-undang No. 22 tentang Pemerintah Daerah dan Undang-undang No. 25 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pusat dan Daerah, maka diperkirakan pendapatan Daerah Propinsi Jawa Timur akan meningkat secara bermakna. Di sisi lain Jawa Timur merupakan daerah yang secara geografis menempati posisi strategis sehingga sangat mungkin dikembangkan sebagai pusat kegiatan baik industri, perdagangan maupun pendidikan untuk daerah Indonesia barat dan timur serta negara di sekitarnya. Peningkatan sumber daya manusia dicapai melalui peningkatan kesempatan belajar bagi masyarakat dengan menyediakan sarana/prasarana pendidikan yang memenuhi standar mutu yang ditetapkan, peningkatan kualitas pendidikan serta perbaikan proses pendidikan, termasuk dalam hal ini fasilitas program dokter gigi.

Angka pertambahan jumlah penduduk setiap tahun Jawa Timur diperkirakan akan terus bertambah dan memerlukan peningkatan fasilitas di segala bidang termasuk fasilitas pendidikan mencapai kualitas sumber daya manusia sesuai yang diinginkan. Kota Malang yang selama ini terkenal sebagai kota pendidikan di Jawa Timur khususnya dan Indonesia secara umum justru sampai saat ini belum mempunyai sarana pendidikan dokter gigi. Hal ini merupakan peluang yang baik bagi Universitas Brawijaya untuk menyelenggarakan program studi pendidikan dokter gigi.

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya di Malang yang nantinya akan mengelola Program Studi Kedokteran Gigi telah banyak memiliki sumber daya, baik sumber daya manusia maupun sarana/prasarana dimungkinkan terjadinya satu resources sharing dengan Program Studi Kedokteran Gigi yang akan diusulkan, serta adanya sumber daya yang ada di RSU. Dr. Saiful Anwar Malang, yang dapat dimanfaatkan bersama, akan sangat memudahkan persiapan yang dibutuhkan bagi Program Studi Kedokteran Gigi ini. Sumber daya manusia, sarana/prasarana yang terdapat di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya maupun RSU Dr. Saiful Anwar Malang, dukungan dan peran serta masyarakat, menunjukkan penyelenggaraan Program Studi Kedokteran Gigi sangat mungkin dilaksanakan di Kota Malang dengan memanfaatkan seluruh daya manusia dan sarana yang ada.

Berbagai langkah strategis diupayakan guna mengatasi kendala yang ada dalam mencapai terlaksananya pendidikan pada Program Studi Kedokteran Gigi dengan standar mutu yang ditetapkan.

Bertolak dari latar belakang tersebut diatas, Universitas Brawijaya diharapkan ikut berperan dalam mencukupi kebutuhan sumber daya manusia di bidang kesehatan, khususnya tenaga dokter gigi agar rasio dokter gigi dengan jumlah penduduk yang diharapkan semakin kecil.

Mengingat bahwa terdapat sumber daya yang dapat dimanfaatkan bersama Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, RSU Dr. Saiful Anwar, serta di jajaran Dinas Kesehatan yang lain sebagai tempat pendidikan dan tidak adanya pendidikan dokter gigi di Kota Malang, maka sangat mungkin Program Studi Kedokteran Gigi dapat dilaksanakan di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya guna menghasilkan tenaga dokter gigi yang mampu menghadapi era global dengan kualitas dan kemandirian yang tinggi.

Dan dalam rangka pendirian program studi kedokteran gigi maka diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Dukungan ini datang dari Rumkit dr. Soepraoen Malang (melalui surat tertanggal 12 September 2007), Dinkes Kota Malang (13 September 2007), RS Kabupaten Malang (19 September 2007), RSU Dr. Saiful Anwar Malang (6 Oktober 2007), Ikatan Dokter Indonesia cabang Malang Raya (1 Nopember 2007) dan PDGI cabang Malang (12 Nopember 2007).

Pada tanggal 15 Mei 2008 Konsil Kedokteran Indonesia memberikan rekomendasi terhadap pembukaan prodi baru yaitu prodi pendidikan dokter gigi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dengan melakukan kunjungan dan meninjau keadaan lapang. Maka melalui SK Dirjen DIKTI No 2123/D/T/2008 tertanggal 11 Juli 2008 maka prodi pendidikan dokter gigi resmi didirikan.

Back to top